Resensi : Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

92Hamka

Resensi : Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

Oleh : Evita Menur Fauziah

 

Judul               : Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

Penulis             : HAMKA

Tahun Terbit    : 1939

Penerbit           : Bulan Bintang

Cetakan           : 26, Juli 2002

Tebal Buku      : 224

Tenggelamnya kapal van der wijck merupakan karya yang ditulis oleh Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih dikenal dengan nama HAMKA. Beliau adalah seorang penulis, penyair dan seorang ulama besar Indonesia. Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck merupakan salah satu karyanya yang tersohor. Dalam novelnya ini HAMKA mengisahkan tentang seorang pemuda, dalam memperjuangkan cinta dan cita-citanya. Namun persoalan adat yang berlaku dan persoalan kekayaan menjadi penghalang hubungan cinta mereka.

Sejak berumur 9 bulan Zainudin telah ditelah ditinggal mati oleh ibunya, Daeng Habibah seorang wanita keturunan Mengkasar (Makassar), kemudian beberapa tahun setelah kematian ibunya, ayahnya yang bernama Pandekar Sutan juga meninggal dunia. Zainudin pun dirawat dan diasuh oleh Mak Base yang merupakan pengasuh yang kemudian menjadi ibu angkatnya.

Setelah dewasa Zainudin memutuskan untuk pergi ke Minangkabau, kekota kelahiran ayahnya. Dengan berat hati akhirnya Mak Base mengizinkan dan melepas Zainudin pergi untuk menemui sanak saudaranya dan memperdalam ilmu agamanya.

Sesampainya Zainudin di desa Batipuh, disana ia bertemu dengan Bakonya (keluarga dari pihak ayah). Namun kedatangannya tidak disambut baik oleh keluarganya, sebab berdasarkan adat yang berlaku di Minangkabau keturunan asli diambil dari pihak ibunya. Sedangkan di kota-kota lainnya keturunan asli diambil dari ayahnya. Walau pun berayah orang Minangkabau jika ia memiliki ibu yang bukan orang Minangkabau maka ia akan dipandang orang sebagai ”anak pisang” (pendatang/orang asing). Sungguh malang nasib Zainudin sebab di tempat kelahiran ibunya ia dipandang orang asing dan  di tempat kelahiran ayahnya pun ia dipandang orang asing.

Selama tinggal di Batipuh ia diizinkan tinggal dirumah saudaranya, Made Jamilah. Bukan karena Made Jamilah merasa Zainudin saudaranya tetapi karena Zainudin memberi uang bulanan yang dikirimkan Mak Base kepadanya.

Suatu hari ketika hujan turun ia meminjamkan payung kepada seorang gadis bernama Hayati. Hayati adalah gadis tercantik dan terpandang di desa Batipuh. Sejak kejadian itu mekarlah bunga-bunga cinta dihati mereka berdua. Hubungan percintaan diantara keduanya tersiar keseluruh warga di Batipuh. Datuk Garang sudah tidak tahan lagi dengan gunjingan yang ditujukan pada keponakannya Hayati yang membuat malu keluarganya. Akhirnya demi menjaga nama baik Hayati, Datuk Garang mengusir Zainudin dari Batipuh.

Dengan berat hati Zainudan meninggalkan Batipuh menuju Padang Panjang. Di tengah jalan Hayati menemuinya untuk mengatakan bahwa cintanya hanya untuk Zainudin dan ia akan menunggu Zainudin berapapun lamanya.

Namun Hayati tidak bias memegang janjinya, beberapa bulan kemudian ia memilih menikah dengan aziz, kakak dari khadijah, sahabat hayati dengan alasan uang dan kedudukan. Padahal saat itu zainudin memiliki cukup uang untuk melamar dan menghidupi hayati dengan uang warisan yang diperolehnya dari Mak Base yang telah meninggal.

Hati zainudin hancur karena cintanya dikhianati oleh Hayati, sehingga ia terbaring sakit selama 2 bulan. Atas saran dari sahabatnya, Muluk, Zainudin memutuskan untuk pergi ke Jakarta.

Di Jakarta Zainudin mulai membuat banyak karangan untuk dikirmkan ke surat kabar. Sehingga di dalam masa yang belum cukup setahun, karangan karangannya telah tersebar (Hal 146). Setelah Sukses di Jakarta Zainudin pindah ke Surabaya untuk membuka perusahaan penerbitan sendiri. Di Surabaya namanya kian terkenal, ia terkenal dengan nama samaran letter “Z” ia juga mengganti namanya menjadi tuan shabir.

Karena pekerjaan Aziz dipindahkan ke Surabaya, Hayati dan Aziz pun menetap di Surabaya. Suatu hari Aziz mendapat sebuah undangan dari klub anak Sumatera untuk menonton sebuah pertunjukan karangan Tuan Shabir. Karena ajakan Hayati maka akhirnya Aziz pun bersedia menonton pertunjukan itu. Di akhir pertunjukan barulah mereka tahu bahwa Tuan Shabir ialah Zainudin.

Selama tinggal di Surabaya Aziz sering keluar malam, Mabuk-mabukan dan berjudi. Aziz pun dipecat dari pekerjaannya karena hutang yang menumpuk dan mereka harus meninggalkan rumah kontrakannya karena sudah tiga bulan tak membayar sewa. Bahkan barang-barangnya pun disita untuk melunasi hutangnya. Karena tidak mempunyai uang dan tempat tinggal Aziz dan Hayatipun menumpang di rumah Zainudin.

Setelah sebulan tinggal di rumah Zainudin, Aziz pun pergi ke Banyuwangi untuk mencari pekerjaan. Ia meninggalkan istrinya di rumah Zainudin. Beberapa hari kemudian Hayati menerima surat cerai dari suaminya dan bersamaan dengan itu datang berita bahwa Aziz telah bunuh diri karena meminum obat tidur di sebuah kamar hotel di Banyuwangi.

Hayati merasakan kesedihan mendalam. Namun mengingat perkataan Muluk bahwa Zainudin masih tetap mencintainya, Hayati pun meminta Zainudin untuk menikahinya, dan ia juga meminta maaf atas segala perbuatannya di masa lalu.

Namun rasa cinta Zainudin sama besarnya dengan perasaan sakit hatinya. Sehingga timbulah perasaan untuk membalas rasa sakit hati itu pada Hayati. Zainudin pun menolak permintaan Hayati. Dengan kapal Van Der Wijck Hayati pulang ke kampungnya atas biaya Zainudin. Namun Akhirnya Zainudin pun sadar ia tidak bisa hidup bahagia tanpa Hayati. Zainudin pun berencana untuk menyusul Hayati.

Harapan Zainudin pun tidak tercapai, kapal Van Der Wijck yang ditumpangi oleh Hayati tenggelam dan nyawa Hayati pun tidak dapat diselamatkan. Jenazah Hayati dimakamkan di Surabaya. Zainudin merasa sangat sedih dan menyesal atas perbuatannya. Sepeninggal Hayati Zainudin menjadi sering sakit-sakitan. Akhirnya Zainudinpun meninggal dunia dan dimakamkan di sisi makam Hayati.

Dalam Novel ini sepertinya sang penulis ingin mengkritik adat budayanya sendiri. Hal ini dapat kita lihat dari ungkapan-ungkapan, pemikiran serta perkataan yang dilontarkan Zainudin, si tokoh utama.

Penggunaan latar yaitu adat budaya Minangkabau dan Makassar digambarkan sangat bertentangan itulah yang menjadikan Novel ini menarik dan membuat setiap pembaca larut dalam cerita serta ingin terus membaca hingga akhir.

Rangkaian peristiwa, penokohan yang kuat, penggambaran latar yang tepat hingga akhir cerita yang mengalir indah tidak bias dipungkiri lagi itulah yang menjadi kelebihan dari novel ini.

Novel sastra karya penulis tersohor ini telah mengandung decak kagum para pembacanya. Novel ini dapat dijadikan bacaan untuk diambil nilai yang terkandung di dalamnya dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari Kisah percintaan yang dirangkum apik dalam novel ini agaknya sangat cocok untuk dinikmati oleh para remaja dan dewasa.

                                                                                    Pandeglang, 5 Februari  2011

  Evita Menur Fauziah

About these ads

Tagged:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Deli(a)ciouS

Cari apa? Di sini enggak ada yang penting. Serius!

Goresan Kenangan

Setiap detik yang berlalu telah menggoreskan sebuah kenangan

Welcome to Mori Manjusri's Blog!

A New Sources of Information and Knowledges !

my world

4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site

chachamentari

Smile! You’re at the best WordPress.com site ever

novhaagattha

A topnotch WordPress.com site

Nur Anggraini

Welcome to my story world

Irwanda Firmansyah

Be A Master!! :D

Rainbow Troops

The greatest WordPress.com site in all the land!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 38 other followers

%d bloggers like this: